6 Kegiatan Sensori Integrasi untuk Anak dengan Autisme - KidCare Children Therapy Center
13585
post-template-default,single,single-post,postid-13585,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Sensori Integrasi  / 6 Kegiatan Sensori Integrasi untuk Anak dengan Autisme

6 Kegiatan Sensori Integrasi untuk Anak dengan Autisme

Gangguan integrasi sensorik (sensory integration disorder) sangat umum terjadi pada anak-anak autis.

Anak yang menderita autis tidak dapat mengintegrasikan informasi sensorik yang diterima tubuh untuk dikirim ke otak , seperti  sentuhan, penciuman, penglihatan, rasa, dan pendengaran.

Karenanya, anak autis sulit merespon lingkungan mereka dengan tepat.

Untuk mengatasi hal ini ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan baik di rumah maupun di ruang kelas.

Berikut adalah beberapa kegiatan integrasi sensorik yang bisa dilakukan untuk anak dengan autisme:

  1. Kerajian Tangan (Craft Activities)

Salah satu kegiatan yang paling efektif untuk anak autis adalah membuat kerajinan tangan, seperti membentuk tanah liat atau melukis.

Berikan anak tanah liat dan biarkan mereka membuat berbagai macam bentuk yang berbeda.

Melukis juga merupakan salah satu ide bagus.

Awalnya, Anda bisa memegang tangan anak dan mengajari bagaimana cara melukis hingga kemudian anak mampu melukis sendiri

  1. Aktivitas Gerakan (Movement Activities)

Beberapa anak autis tidak dapat mengendalikan tubuh dan gerakan mereka.

Beberapa mainan harus disediakan untuk anak autis, misalnya kursi goyang, papan skuter, glider rocker, ayunan, dan lainnya.

Sambil bermain, anak autis belajar membentuk sensasi keseimbangan dan gerakan tubuh.

  1. Aromaterapi

Anak autis yang sensitif terhadap bau dan yang kesulitan menghubungkan sesuatu dengan bau, bisa mendapatkan banyak manfaat melalui aromaterapi.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah dengan menyalakan lilin aromaterapi di dalam ruangan dimana anak autis diminta untuk duduk.

Aromaterapi terbukti memiliki sifat terapeutik untuk menenangkan serta merelaksasikan saraf anak autis.

  1. Aktivitas Taktil (Tactile Activities)

Untuk memberikan anak autis sensasi sentuhan, pasir dan air menjadi mainan ideal bagi mereka.

Berikan anak beberapa ember pasir kemudian tambahkan air .

Biarkan anak meletakkan tangan mereka ke dalam ember sehingga dapat merasakan apa yang ada di dalam ember.

Kegiatan ini akan mempertajam sensasi sentuhan anak.

Aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah meminta anak untuk berendam di kolam renang.

Dengan cara ini anak bisa merasakan seluruh tubuh mereka dengan air.

  1. Aktivitas Berat (Heavy Work Activities)

Aktivitas berat menjadi keharusan bagi anak yang mengalami kesulitan untuk diam atau mengatur gerakan tubuh mereka.

Anak biasanya terus menggerakkan kaki bahkan saat duduk, nampak gelisah, hiperaktif, dan sulit mengendalikan diri.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk anak-anak tersebut diantaranya adalah menarik, mendorong, bermain dengan bola, mengisap dan mengunyah sesuatu, meniup peluit, meremas bola, dan lainnya.

Bermain “kid’s sandwich” juga bisa dilakukan dimana seorang anak berbaring di atas bantal besar kemudian dilapisi bantal besar di atasnya.

Setelah itu tekan dengan lembut dari atas bantal. Ini merupakan cara yang bagus untuk membuat anak belajar bagaimana mengontrol tubuhnya .

  1. Kegiatan Musik dan Tari

Untuk memperbaiki indera pendengaran anak, kegiatan yang bisa dilakukan adalah mendengarkan musik dan menari.

Untuk mengkombinasikan pengembangan indera pendengaran dan sentuhan, bermain alat musik juga bisa dilakukan.

Musik bisa pula dimasukkan dalam kehidupan sehari-hari anak.

Misalnya, jenis musik tertentu diperdengarkan dan anak diminta untuk melakukan hal tertentu, seperti berdiri atau duduk.

Bila kegiatan integrasi sensorik direncanakan dengan tepat maka bisa meningkatkan kemampuan panca indera anak dengan autis sehingga mampu bereaksi dan merespon lingkungan dengan lebih baik.

No Comments

Leave a Comment