Gangguan Struktur dan Fungsi Otak Penderita Autisme - KidCare Children Therapy Center
13730
post-template-default,single,single-post,postid-13730,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Umum  / Gangguan Struktur dan Fungsi Otak Penderita Autisme

Gangguan Struktur dan Fungsi Otak Penderita Autisme

Autisme adalah gangguan pada otak yang berefek pada kemampuan interaksi sosial anak. Sebanyak 50 persen autisme disebabkan oleh kelainan kromosom saat penyusunan otak.

  • Pada anak penyandang autisme, wilayah otak yang disebut frontal cortex yang terdiri atas prefrontal cortex dan temporal cortex tidak dapat berfungsi secara sempurna. Kelainan ini menyebabkan otak tidak dapat memberi perintah terkait ekspresi, emosi, dan interaksi sosial. Perintah tersebut ada di bagian frontal cortex. Frontal cortex memiliki bagian prefrontal cortex yang merupakan pusat kognitif. Bagian ini memiliki fungsi eksekutif terkait emosi yang ditampilkan. Bagian ini juga berperan dalam penilaian, kretivitas, dan berbicara. Sedangkan bagiak lobus temporal pada otak menjalankan fungsi mendengar, penguasaan bahasa, dan interprestasi suara.
  • Otak anak penyandang autisme juga bermasalah pada wilayah fusi form. Bagian ini berfungsi untuk mengenali wajah. Pada penyandang autis fusi form tidak merespon ketika ditunjukkan gambar wajah. “Bagian fusi form ada pada anak autis, namun tidak bekerja.
  • Otak seseorang dengan dan tanpa autis juga berbeda secara kimiawi . Hal ini dibuktikan penelitian yang dilakukan Prof. Daniel Geschwind dari University of California, Los Angeles. Penelitian itu menunjukkan, bagian prefrontal dan temporal pada autis menghasilkan protein yang sama. Pola ini, menurut Geschwind tampak pada penderita autis. Padahal pada otak tanpa autis, tiap bagian dikendalikan susunan gen yang berbeda. Susunan gen tersebut akan menghasilkan protein yang berbeda. Namun hal tersebut tidak ditemukan pada penyandang autisme. Penelitian yang digagas Geschwind diadakan di Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada. Sampel penelitian adalah 19 otak dengan dan 17 otak tanpa autis. Dari hasil perbandingan terungkap, ada sekitar 209 gen terkait cara kerja dan komunikasi sel otak bekerja dalam tingkat yang lebih rendah dibanding yang tanpa autis. Sementara 235 gen yang berhubungan dengan daya tahan dan respon luka diekspresikan dengan lebih kuat.
  • Riset lainnya menunjukkan, otak penyandang autisme juga memiliki badan sel saraf (neuron) lebih banyak 67 persen di bagian prefrontal kortex, dibanding yang tanpa autis. Jumlah total sel neuron penyandang autisme adalah sekitar 1,9 milyar, sedangkan non autisme 1,7 milyar. Akibatnya, bobot otak penyandang autis cenderung lebih berat. Hal ini mengindikasikan adanya keadaan abnormal. Bisa potensi koneksi yang meningkat, atau justru sebaliknya,” kata peneliti Dr. Eric Courchesne, Director of the National Institute of Health-University of California-San Diego School of Medicine Autism Center of Excellence. Penelitian dilakukan pada tujuh otak anak tanpa autis, dan enam otak anak dengan autis.

Terdapat berbagai variasi kelainan pada struktur dan fungsi otak penderita Autism

  • Volume Otak meningkat.
  • Struktur Abnormal lobus otak frontalis dan corpus callosum.
  • Functional neuroimaging ketidak seimbangan metabolisme inter-regional dan inter-hemispheric brain metabolism.
  • Gangguan aliran darah pada otak bagian anterior cingulate gyrus.

No Comments

Leave a Comment