Gejala Pada Stunting - KidCare Children Therapy Center
13869
post-template-default,single,single-post,postid-13869,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Umum  / Gejala Pada Stunting

Gejala Pada Stunting

Permasalahan gizi antara lain kegagalan pertumbuhan pada awal kehidupan seperti berat badan lahir rendah, pendek, kurus dan gemuk, yang akan berdampak pada pertumbuhan selanjutnya. Nah, tinggi badan pendek pada anak ini banyak disebut dengan istilah stunting. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 diketahui bahwa prevalensi balita stunting masih tinggi, yaitu balita stunting sebanyak 37,2% dan Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 menunjukkan prevalensi balita pendek 29.0%,. Kondisi stunting ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan
gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Kondisi stunting ini menyebabkan kondisi tubuh anak lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya yang normal.

Gejala penyakit stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Berarti, stunting sendiri sangat berkaitan dengan asupan gizi ketika sang ibu sedang mengandung. Kondisi gejala penyakit stunting yang diakibatkan pada masa mengandung ini karena asupan gizi selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit.

Berdasarkan Riskesdas tahun 2013 prevalensi Ibu hamil risiko Kurang Energi Kronis (KEK) juga masih tinggi (24,2%), ibu hamil dengan risiko KEK sebesar 16.2%. Selain pada masa mengandung, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi, misalnya kurangnya kualitas dan asupan ASI eksklusif ataupun MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kepada sang buah hati. Salah satu prioritas
pembangunan kesehatan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 adalah perbaikan gizi khususnya stunting.

Nah, melihat resiko masa depan si buah hati alangkah baiknya kamu lebih memperhatikan pertumbuhan anak dari tinggi badannya. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Dan berikut adalah gejala yang terjadi pada stunting :

Gejala penyakit stunting sebenarnya sudah bisa teramati sejak sang buah hati lahir, beberapa gejala dan tanda lain yang terjadi kalau anak mengalami stunting antara lain; anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda atau lebih kecil untuk usianya, Pertumbuhan tulang tertunda, berat badan tidak naik, cenderung menurun, untuk anak perempuan, menstruasi terlambat dan mudah terkena penyakit infeksi.Risiko yang dialami oleh anak pendek atau stunting kesulitan belajar dan kemampuan
kognitifnya lemah, Mudah lelah dan tak lincah, risiko mengalami berbagai penyakit kronis saat dewasa seperti diabetes, jantung dan kanker.

No Comments

Leave a Comment