Manfaat Terapi Bermain Untuk Anak Autis | Kidcareindonesa.com
13359
post-template-default,single,single-post,postid-13359,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Umum  / Manfaat Terapi Bermain untuk Membantu Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Manfaat Terapi Bermain untuk Membantu Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Manfaat Terapi Bermain untuk Anak Autis – Apa itu Terapi Bermain?

Terapi bermain adalah suatu metode psikoterapi untuk membantu anak usia 3 sampai 12 tahun mengekspresikan pikiran, perasaan, atau emosi mereka dengan lebih baik lewat beragam permainan. Lewat metode ini, anak juga dapat mengembangkan rasa empati, perilaku, dan keterampilan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih positif.

Manfaat terapi bermain untuk anak autis juga sering digunakan sebagai metode pendekatan untuk mencoba berkomunikasi dan menolong anak yang mengalami trauma. Terapi bermain itu sendiri sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak tahun 1919.

Ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam terapi bermain:

  • Terapi bermain tidak langsung. Terapi ini berdasarkan pada prinsip bahwa anak-anak bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri dengan kebebasan bermain, menggunakan intruksi dan pengawasan terbatas.
  • Terapi bermain langsung. Terapi ini menggunakan lebih banyak masukan dari terapis untuk membantu mempercepat hasil.

Terapis bisa menggunakan kedua pendekatan di atas dalam satu waktu, tergantung situasinya.

Siapa saja yang perlu terapi ini?

Terapi bermain adalah bentuk komunikasi dengan anak-anak yang lebih mampu mengekspresikan dirinya melalui aktivitas fisik daripada lewat komunikasi verbal. Misalnya, anak-anak yang memiliki masalah sosial atau emosional dari trauma yang pernah dialaminya, seperti anak korban atau menyaksikan KDRT dan kekerasan seksual, anak-anak yang orangtuanya bercerai, terjebak dalam krisis keluarga, hingga yang memiliki kondisi medis tertentu atau harus menjalani rawat inap dalam waktu lama.

Terapi bermain juga dapat membantu anak-anak yang memiliki masalah akademik, seperti gangguan kesulitan belajar seperti disleksia dan ADHD; gangguan perilaku, seperti kesulitan pengendalian emosi; gangguan kejiwaan seperti kecemasan dan depresi hingga beragam spektrum autisme.

Tergantung dari apa akar masalahnya, kebanyakan anak-anak ini merasa takut, enggan, ragu, atau tidak mampu mengekspresikan dirinya dengan baik. Di sinilah peran terapi bermain dimulai. Dengan adanya pilihan beragam mainan yang familiar di mata anak, terapis mengharapkan anak dapat lebih mudah untuk membuka diri.

Terapi ini biasanya dilakukan dengan pengawasan terapis atau psikolog anak yang sudah terlatih menangani kasus-kasus ini. Anda juga bisa berbicara dengan psikolog yang ada di rumah sakit untuk menanyakan terapi ini atau terapi mana yang tepat dengan permasalahan yang dialami oleh si kecil.

Apa saja yang dilakukan dalam terapi ini?

Seperti namanya, selama terapi bermain anak akan dibiarkan dalam sebuah ruangan khusus yang aman dan nyaman untuk bermain apapun sesuka hatinya. Hampir tidak ada batasan atau peraturan bagi anak selama bermain di ruangan ini. Hal ini bertujuan untuk mendorong kebebasan anak berekspresi.

Namun biasanya sebelum anak dibolehkan masuk ke ruangan bermain, psikolog akan melakukan sesi wawancara singkat dengannya untuk menentukan jenis permainan yang bisa digunakan sesuai dengan permasalahan si kecil.

Kerajinan tangan, kesenian seperti alat musik dan pilihan lagu untuk anak menari, buku cerita, dan alat permainan lainnya bisa digunakan untuk terapi bermain si kecil. Terapi bermain biasanya dilakukan dalam waktu 20 sesi yang masing-masing sesi berlangsung sampai 30-45 menit. Terapis dapat mengamati bagaimana anak memilih permainan dan bagaimana ia menggunakannya sebagai caranya mengungkapkan pikiran dan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Sementara anak bermain, orangtua atau pengasuh anak akan berada di ruangan terpisah didampingi oleh psikolog untuk sama-sama mengamati pilihan, keputusan, dan gaya bermain anak. Terapis juga akan mewawancarai orangtua/pengasuh untuk menggali informasi tentang kebiasaan, karakter, dan perilaku anak dalam kesehariannya. Dengan membandingkan dua informasi ini, terapis kemudian dapat memperoleh petunjuk dan menentukan langkah apa yang dapat dilakukan selanjutnya untuk mengatasi masalah anak.

No Comments

Leave a Comment