Mengenal Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dan Bedanya Dengan Autisme - KidCare Children Therapy Center
13662
post-template-default,single,single-post,postid-13662,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Umum  / Mengenal Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dan Bedanya Dengan Autisme

Mengenal Gangguan Spektrum Autisme (GSA) dan Bedanya Dengan Autisme

Gangguan spektrum autisme (GSA) atau juga bisa disebut dengan autism spectrum disorder (ASD) adalah suatu kondisi yang berkaitan dengan perkembangan otak anak. Kondisi ini memengaruhi kemampuannya dalam bersoliasisasi, berkomunikasi, dan berperilaku. Ketahui lebih jauh tentang autism spectrum disorder dalam artikel ini.

Autism spectrum disorder di Indonesia
Autism spectrum disorder adalah sebuah istilah yang memayungi berbagai penyakit yang berkaitan dengan gangguan perkembangan. Kondisi yang termasuk dalam spektrum ini antara lain autisme, sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).

Dikutip dari laman CNN, Melly Budhiman, seorang pakar autisme dan ketua Yayasan Autisme Indonesia mengatakan bahwa sampai saat ini di Indonesia belum pernah ada survei resmi terkait angka pasti kejadian kasus anak dengan autism spectrum disorder.

Meski di Indonesia belum ada data resmi yang menyatakan jumlah pasti anak dengan autisme, pada tahun 2013 lalu Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan pernah menduga jumlah anak dengan autisme di Indonesia sekitar 112 orang dengan rentang usia 5 sampai 19 tahun. Para pakar percaya jika kasus tersebut terus mengalami peningkatkan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari angka kunjungan di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa pada klinik tumbuh kembang anak dari tahun ke tahun.

Mengenal gejala autism spectrum disorder sejak dini
Autism spectrum disorder adalah gangguan perkembangan yang bisa dimulai sejak usia dini. Secara umum, gejalanya sudah bisa terdeteksi pada usia awal perkembangan anak, yaitu sebelum mencapai tiga tahun.

Istilah “spektrum” dalam gangguan spektrum autisme mengacu pada berbagai gejala dan tingkat keparahan yang unik, dari tingkatan yang rendah hingga tinggi. Artinya, setiap anak yang mengalami autism spectrum disorder memiliki gejala yang berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.

Sebagai contoh, ada beberapa anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dari normal sehingga sulit untuk belajar. Sedangkan beberapa anak lainnya ada juga yang memiliki kecerdasan tinggi dan mampu belajar dengan cepat, tapi mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan menerapkan apa yang mereka ketahui dalam kehidupan sehari-hari dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

Jadi, pada dasarnya gejala dan tingkat keparahan autism spectrum disorder ini cenderung beragam pada setiap setiap orang. Akan tetapi dilansir dari Mayo Clinic, gejala-gejala autism spectrum disorder dapat dikelompokkan dalam dua kategori utama, yaitu:

1. Gangguan interaksi sosial dan komunikasi
Gejala ini dapat meliputi masalah kepekaan terhadap lingkungan sosial dan gangguan penggunaan bahasa verbal maupun non verbal, contohnya:
• Tidak merespon jika setiap kali dipanggil namanya.
• Lebih suka bermain sendiri.
• Tidak suka kontak mata dan menunjukkan ekspresi wajah yang datar.
• Berbicara dengan nada atau ritem yang tidak normal, terkadang ucapanya seperti robot.
• Sering mengulang kata atau frasa kata demi kata, namun tidak mengerti cara menggunakannya.
• Sulit mencerna pertanyaan atau petunjuk sederhana.
• Tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.
• Tidak suka dipeluk atau hanya membolehkan dipeluk saat mereka ingin saja.
• Tidak akan melihat lurus objek saat orang lain menunjuk ke arah objek tersebut.
• Kesulitan mengenali isyarat non-verbal, seperti menafsirkan ekspresi wajah orang lain, postur tubuh, atau nada suaranya.

2. Pola perilaku
Gejala di kategori kedua meliputi pola pikir, minat, dan perilaku yang terbatas serta bersifat pengulangan, contohnya:
• Sering melakukan gerakan berulang, misalnya mengetuk-ngetuk atau meremas tangan, serta merasa kesal saat rutinitas tersebut terganggu.
• Melakukan aktivitas yang bisa melukai dirinya sendiri, seperti menggigit-gigit kuku atau membenturkan kepala.
• Memiliki masalah dengan koordinasi atau memiliki pola gerakan aneh, kaku, atau berlebihan seperti jalan berjinjit.
• Memiliki indra yang sangat sensitif. Misalnya terhadap cahaya, suara, atau sentuhan. Namun anak mungkin kurang peka terhadap rasa sakit atau perubahan suhu.
• Anak dengan autism spectrum disorder juga cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lain, misalnya gangguan hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan, dan depresi.

Hubungi dokter jika Anda menyadari adanya gejala spektrum autisme atau gangguan perkembangan pada diri Anda maupun anak Anda sedini mungkin. Pasalnya, autism spectrum disorder adalah kondisi yang tidak bisa disembuhkan.

Meski demikian, terdapat berbagai jenis penanganan serta langkah pengobatan intensif yang bisa membantu anak dengan autisme untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari, serta mencapai potensi mereka secara maksimal.

No Comments

Leave a Comment