Sensori Integrasi Anak Autis di Medan | Kidcareindonesia.com
12309
page-template,page-template-full-width,page-template-full-width-php,page,page-id-12309,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-dark-header,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive
 

Sensori Integrasi

KidCare Children Therapy Center / Sensori Integrasi

Sensori Integresi

Dengan permasalahan sensori integrasi, anak mengalami kesulitan untuk menguasai kemampuan tertentu, yang menghambatnya untuk bereksplorasi, kreatif dan mengorganisasikan dirinya saat berada di lingkungan. Sehingga dengan bantuan sensori integrasi akan membantu memudahkan tubuh anak untuk merespon otak untuk mengatur jalannya proses tersebut.

Kasus yang ditangani oleh sensori integrasi antara lain :

Autisme, Attention Deficit Hyperactive Disorder, Attention Deficit Disorder (ADD), Learning Disabilities (LD), Cerebral Palsy (CP), Down Syndrome (DS), Gangguan sensori integrasi (Ganguan emosi, keseimbangan, koordinasi gerakan, konsentrasi, dan perabaan)

Anak Mengalami Disfungsi Integrasi?

Saat bayi baru lahir, dia baru menerima rangsangan dari indera terdekatnya yaitu indera vestibular-proprioseptive-tactile. Dari situlah bayi merasakan kalau tubuhnya diangkat atau diayun. Lewat indera tactile bayi bisa merasa nyaman saat dipeluk atau saat ia mengisap susu ibunya. Dengan kondisi otak yang normal, bayi akan berkembang terus untuk mendapatkan sensasi pada indera vestibular dan proprioseptive yang lebih banyak.

Lewat proses ini bayi belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia mulai berguling, merayap dan merangkak. Bayi juga mulai mencari-cari suara yang memanggilnya. Dia mulai belajar bersuara, belajar berkomunikasi secara verbal (berbicara), membedakan bentuk, warna serta ukuran. Melalui integrasi gerakannya anak mulai mampu menyusun balok, meronce, menggunting, lalu menulis.