Speech Delay (Keterlambatan Bicara) - KidCare Children Therapy Center
13837
post-template-default,single,single-post,postid-13837,single-format-standard,mkd-core-1.0,sparks-ver-1.1.2,mkd-smooth-scroll,mkd-smooth-page-transitions,mkd-ajax,mkd-grid-1300,mkd-blog-installed,mkd-header-standard,mkd-sticky-header-on-scroll-up,mkd-default-mobile-header,mkd-sticky-up-mobile-header,mkd-dropdown-default,mkd-header-style-on-scroll,mkd-full-width-wide-menu,mkd-header-standard-in-grid-shadow-disable,wpb-js-composer js-comp-ver-5.2.1,vc_responsive

Blog

KidCare Children Therapy Center / Umum  / Speech Delay (Keterlambatan Bicara)

Speech Delay (Keterlambatan Bicara)

Speech delay dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara ini berbeda dengan keterlambatan bahasa (language delay), walaupun kadang-kadang berjalan beriringan. Apa sih bedanya? Kita bahas dari pengertian ‘bicara’ dan ‘bahasa’ dulu ya. Bicara adalah suara yang keluar dari mulut kita. ‘bicara’ dapat dikatakan bermasalah ketika apa yang keluar dari mulut kita tidak bisa dipahami orang lain. Nah kalau ‘bahasa’ lebih terkait dengan makna, dibandingkan bunyi. Bahasa adalah salah satu alat untuk mengukur kecerdasan, sehingga keterlambatan bahasa menjadi lebih serius dibandingkan keterlambatan bicara.

Tahapan Perkembangan Bicara

0-6 Bulan

Saat baru lahir komunikasi bayi hanya dilakukan melalui tangisan dengan berbagai irama dan pola. Selanjutnya antara usia 6 minggu hingga 3 bulan bayi mulai melakukan cooing (mengucapkan satu suku kata yang diawali dengan hufuf vokal seperti ‘aaah’) ketika mereka merasa gembira. Di usia 6 hingga 10 bulan bayi melakukan babbling yaitu mengulang suku kata yang diawali dengan konsonan seperti ‘ma-ma-ma-ma’. Kadangkala hal ini dimaknai sebagai kata pertama bayi padahal tidak demikian karena kata-kata yang diucapkan bayi tidak memiliki makna tertentu. Di rentang usia ini bayi juga sudah memiliki awareness terhadap bunyi (misalnya menengok ke arah sumber suara, berhenti menangis ketika diajak berbicara) dan menggunakan tatapan mata untuk menunjukkan minatnya.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 0-6 bulan?

Lakukan uji pendengaran (misalnya BERA test) jika bayi nampak tidak responsif terhadap suara. Gunakan banyak intonasi saat bicara, gunakan bahasa yang sederhana. Bicara dalam bentuk nyanyian juga cara yang sangat baik untuk mendapatkan dan mempertahankan perhatian si bayi. Hal ini membuat anak menjadi semakin aware dengan bicara manusia dan mendorong interaksi social sejak dini.

 7-12 bulan

Di rentang usia ini, anak mulai banyak mengeluarkan suku kata berulang (seperti mama, dada, papa dll). Di usia 9 hingga 10 bulan, bayi dapat menirukan suara tanpa memahami artinya. Di usia 10-14 bulan bayi memunculkan kata pertamanya, yaitu kata yang bermakna sesuatu, misalnya neh untuk nenen. Anak juga menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap aktivitas rutin harian.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 7-12 bulan?

Orang tua dapat berespon terhadap kata-kata yang diucapkan anak (misalnya jika anak berkata ‘mama’, ibu dapat berespon ‘iya sayang, mama disini). Kita juga dapat menyediakan lingkungan yang kaya akan bahasa dengan bicara mengenai aktivitas harian rutin sepanjang hari dengan bahasa yang sederhana (2-3 kata dalam sekali bicara). Gunakan banyak intonasi dan bahasa tubuh ketika berinteraksi dengan anak. Perhatikan dan dengarkan respon anak dan respon semua bentuk komunikasi yang ditunjukkan anak baik verbal maupun non-verbal (senyuman, suara, kata dsb).

12-18 Bulan.

Di usia ini anak dapat mengatakan 3-5 kata. Anak juga sudah mengenali namanya, memahami instruksi sedernaha, menggunakan baik bahasa tubuh maupun suara secara bersama dan memahami benda-benda atau aktivitas yang umum (misalnya baju, makan dsb).
Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 12-18 bulan?

Sebutkan nama benda-benda secara sering. Ketika anak mengambil atau menunjukkan minat terhadap suatu benda atau aktivitas, sebutkan benda atau aktivitas tersebut dengan 1-2 kata. Untuk menstimulasi perkembangan bahasa di usia ini, anak juga sudah dapat diperkenalkan dengan buku yang penuh warna dan lagu anak-anak.

18-24 bulan.

Di usia ini anak sudah bisa menyebutkan 10-20 kata, termasuk namanya. Anak juga sudah mengenali gambar dari orang ataupun objek yang familiar bagianya. Pada usia 18 hingga 24 bulan anak dapat menyatukan dua kata untuk menyampaikan satu ide misalnya ‘Mobil jatuh’

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 18-24 bulan?

Ajak anak mengobrol dengan mengunakan bahasa yang jelas dan sederhana. Saat anak mengeluarkan kata yang belum sempurna, kita tidak perlu mengkoreksi, melainkan hanya mencontohkan kata yang benar. Misalnya saat anak berkata ‘mau cucu’, kita dapat berkata ‘oh, adek mau susu’. Diskusikan apa yang dirasakan, didengarkan atau dilakukan anak sepanjang hari. Jangan lupa untuk memberikan apresiasi atas usaha anak untuk berkomunikasi. Kita juga dapat membuat semacam ‘buku bicara’ dengan menggunting gambar-gambar yang menunjukkan makanan atau mainan favorit anak dari majalah, atau menambahkan foto anggota keluarga ke dalam ‘buku keluarga’. Kita bisa ‘membaca’ buku itu setiap hari dan mempraktikkan kata-kata dari mainan, makanan dan orang-orang yang familiar bagi anak.

24-30 bulan
Di rentang usia ini, anak sudah memahami pertanyaan dan perintah sederhana. Anak juga dapat mengidentifikasi aktivitas yang familiar dari sebuah gambar (misalnya tidur,makan). Di usia ini anak juga sudah bisa membentuk kalimat yang terdiri dari 3 kata. Anak juga akan menyebut dirinya dengan namanya. Daan di usia ini perbendaharaan kata anak bisa mencapai 300 kata. Pada kenyataannya, antara usia 2 hingga 4 tahun, anak dapat meningkatkan perbendaharaan kata mereka sebanyak 2 kata per hari.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 24-30 bulan?

Kita dapat menggunakan beberapa pertanyaan untuk menstimulasi pemikiran dan bahasa, tapiii batasi frekuensi pertanyaan yang kita ajukan ke anak. Terlalu banyak pertanyaan bisa membuat anak frustrasi jika ia belum mampu untuk meresponnya. Berikan kesempatan anak untuk berespon terhadap apapun. Kita juga bisa membacakan buku yang menggunakan bahasa yang sederhana dan berulang serta disertai dengan gambar penuh warna. Kita dapat juga memainkan permainan ‘ibu berkata’ atau permainan lain untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan. Namun pastikan instruksi yang diberikan sederhana, misalnya ‘pegang hidung’.

30-36 Bulan

Di rentang usia ini anak memiliki perbendaharaan kata sekitar 450 kata. Anak juga sudah mulai mengenali konsep dasar seperti ‘besar dan kecil’. Anak juga sudah bisa berkata ‘tidak’ dan menjawab pertanyaan yang diawali dengan kata‘dimana’.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 30-36 bulan?

Contohkan kata-kata ganti seperti ‘aku, dia, kamu’ dengan kalimat pendek (misalnya aku suka permen). Kita juga bisa membacakan cerita yang familiar dan berulang serta dorong anak untuk berespon terhadap pertanyaan sederhana tentang cerita tersebut atau menceritakan kembali cerita tersebut. Dalam membaca buku, kita juga tidak perlu plek-plekan membaca setiap kata dari buku tersebut, terkadang menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan familiar bagi anak justru lebih bermanfaat.

3-4 Tahun

Pada usia ini anak dapat menyebutkan paling tidak satu warna. Anak akan sering bicara saat bermain atau saat sendiri. Anak dapat menceritakan suatu cerita. Anak dapat menggunakan 3-4 kata dalam satu kalimat. Anak dapat mengenali benda-benda dalam kategori yang familiar (misalnya, coba tunjuk mana yang binatang?). di usia ini perbendaharaan kata anak bisa mencapai 1000 kata.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 3-4 tahun?

Orang tua bisa meningkatkan perkembangan perbendaharaan kata anak dengan menyediakan lingkungan yang kaya bahasa di rumah. Gunakan kalimat sederhana (4-5 kata) ketika berbicara dengan/ di sekitar anak untuk membantu pemahaman bahasa anak dan menunjukkan berapa kata yang bisa digunakan untuk membuat kalimat. Anak belajar banyak tentang bahasa melalui bermain. Aktivitas bermain peran bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk mengembangkan kemampuan berbahasa. Bermain dengan anak lain juga merupakan cara yang baik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa.

4-5 Tahun

Di usia ini anak dapat mengikuti perintah yang terdiri dari 2-3 langkah. Di usia ini anak juga akan bertanya banyaak pertanyaan yang utamanya diawali dengan kata ‘kenapa?’. Anak mulai bicara dalam kalimat yang terdiri dari 4-5 kata. Anak memahami konsep ruang seperti ‘di atas’, ‘di bawah’, ‘di samping’ dsb.

Apa yang bisa dilakukan orang tua di rentang usia 4-5 tahun??

Mulailah untuk mengklasifikasikan objek ke dalam kategori yang lebih besar ‘misal binatang, mainan, makanan dsb’. Untuk melakukan ini, kita bisa mengunjungi kebun binatang (bicara tentang bianatng), mengajak anak untuk berdiskusi tentang makanan apa yang akan dimasak hari ini dsb. Kita bisa mengajak anak mengobrol dalam kalimat yang lebih panjang dan membacakan cerita yang lebih panjang. Di usia ini mungkin saja artikulasi anak masih belum sempurna, maka penting bagi orang tua untuk mencontohkan artikulasi yang benar.

5-6 Tahun

Pada usia ini, anak mendefinisikan objek melalui fungsinya. Anak menggunakan 5-6 kata dalam membentuk kalimat, memahami hubungan lawan kata.

Apa yang dilakukan orang tua di rentang usia 5-6 tahun??

Dengarkan ketika anak sedang berbicara dengan kita dan dorong anak untuk mendiskusikan perasaan, idea tau pemikiran. Coba untuk mensrimulasi percakapan. Ajak anak berbicara dengan kalimat yang lebih panjang, layaknya bicara dengan orang dewasa. Mereka dapat memahami lebih dari apa yang bisa mereka katakan.

Itu tadi milestone perkembangan bahasa dan bicara anak. Yang penting untuk dipahami perkembangan setiap anak itu berbeda, mungkin saja anak yang satu lebih cepat, tapi bisa jadi anak lain agak lebih lambat. Selama masih berada di sekitar patokan milestone di atas, nothing to worry. Nah, tugas utama kita sebagai orang tua adalah menstimulasi dan menyediakan lingkungan yang kaya akan bahasa. Intinya adalah anaknya sering diajak ngobrol ya buibu.

Tapi, kalau si kecil tidak memenuhi milestone di atas, langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah cek pendengaran. Meskipun anak tampak bisa mendengar dengan baik, bisa jadi dia memahami sesuatu bukan karena ia mendengar tapi melihat, mengingat anak biasanya ahli dalam memahami petunjuk visual. So, penting banget untuk mendeteksi apabila ada masalah di pendengaran sejak dini supaya bisa di-treatment secepat mungkin.

No Comments

Leave a Comment